Lelaki ini

Aku melihat seorang lelaki berumur 30-an di ujung gang rumahku ketika pulang sekolah. Biasanya, kudapati lelaki yang melihatku akan tersenyum mesum dengan mata penuh birahi. Tapi, Ia melihatku dengan senyum yang tak pernah kukenali. Karena tak enak hati, aku membalasnya dengan senyum tipis. Senyum yang aku sunggingkan dengan hati-hati. Senyumnya masih terjaga, ia lalu berbalik dan pergi. Menimbulkan tanya dalam kepalaku: siapa dia?

 

Malam harinya di sela mengerjakan PR, aku menanyakan lelaki tersebut pada Ibu.

 

“Itu orang yang mengontrak rumahnya Pak Daryo. Kata tetangga, dia guru baru di sekolahmu.”

 

Aku teringat dua hari yang lalu guru bahasa inggrisku memberitahukan kalau ia tak mengajar lagi karena akan melanjutkan studi di Jakarta. Mungkin lelaki yang kulihat tadi siang yang akan menggantikan posisi itu.

 

***

 

“Siapa lagi selain aku yang tahu kalau kau punya sikap seperti ini?”

 

“Tak ada, cuma kamu,” jawabnya sambil tersenyum. Senyum yang sering aku temui di wajah-wajah lelaki yang berpas-pasan pandang denganku, senyum yang membuatku menghindari lelaki, dulu.

 

“Pasti tak akan ada yang percaya bila aku mengatakan apa yang kaulakukan terhadapku, bukan?”

 

“Tentu saja,” jawabnya lirih. Kali ini, ia sibuk mencium leherku.

 

“Bagaimana bisa dulu aku tertipu oleh senyummu.” kataku pelan.

 

Ia tertawa mendengar ucapanku.

 

‘Kukira kau berbeda’, tambahku dalam hati.

 

“Tapi, aku berbeda.” katanya, seperti bisa membaca pikiranku.

 

“hmmm?”

 

“Cuma lelaki berumur 29 tahun ini yang bisa membuat seorang gadis SMA di depanku ini cinta mati.”