Patah Hati

Sebelumnya sekadar untuk info saja, ini adalah postingan curhatan. Sebenarnya semua postinganku isinya juga curhatan, tapi sekarang aku akan lebih mengakui mengenai itu pada diriku sendiri. Juga mengakui bahwa curhatan dan yang kupikirkan tak pernah jauh-jauh dari keseharianku.

Jadi, aku akan membuka pengakuan pada diriku sendiri dengan cerita soal aku yang berubah sikap dari yang tadinya banyak senyum jadi banyak cemberut, dari yang banyak omong jadi banyak diam, dari yang banyak ketawa jadi banyak galaunya. Sebenarnya ini nggak penting sih, tapi dalam proses meringankan beban diri sendiri nggak apa-apalah ya :p

Ini soal aku yang patah hati dan entah kapan bisa move on.

Beberapa bulan yang lalu aku putus sama pacarku. That’s the problem. Sepele banget kan. Tapi, tapi ni ya, selama kurang lebih 7 tahun ini dia itu pusat semestaku. Ceileh bahasanya bok! Jadi kami ini, aku dan pacarku itu sudah berpacaran sejak aku SMA. Kami LDR-an Magelang-Jogja, dekat banget ya padahal. Tapi kala itu karena aku anak rumahan jadi kami ketemunya beberapa bulan sekali, dan itu pun cuma ketemu sekitar 1 jam-an aja. Kasihan dianya yang nge-bus ke Magelang 2 jam perjalanan, cuma ketemu sejam, habis itu balik lagi ke Jogja dengan waktu perjalanan yang sama. Kasihan kamu ya Mas.

Begitu lulus SMA, karena suatu peristiwa, mungkin lain kali akan kuceritakan di postingan lain, aku hijrah ke Jogja. Singkat cerita, kami nggak perlu LDR-an lagi. Aku yang kurang baca, cupu, minderan, nggak humble, pemalu, dan suka nggak ngerti apa yang mau dilakukan ini gagap dengan Jogja yang berjalan lebih cepat ketimbang Magelang. Kalau ingat jaman dulu aku jadi malu sendiri.

Nah, dari sinilah peran pacarku ini semakin besar dalam kehidupanku. Dia kasih aku buku-buku buat dibaca, dia ajak aku ke pentas-pentas seni, dia ajak aku ke komunitas taman baca, memarahiku karena sering bilang nggak tahu dan terserah, dikenalin sama teman-temannya yang semuanya mudah berteman. Itu mengubahku, benar-benar mengubahku.

Dan yang paling pasti, dia menegaskan bahwa aku ini mesti melakukan sesuatu, harus. Nggak boleh cuma diam nonton TV, ngobrol-ngobrol berjam-jam nggak jelas, main-main terus, malas-malasan. Dia terus dan terus mendorongku melakukan sesuatu untuk diriku sendiri. Bahkan, blog ini pun dia sendiri yang membuatnya untukku. Alasannya biar aku rajin nulis, padahal ya awal-awal aja rajinnya, belakangan nggak. Dan, iklan jasa transkrip pun dia yang membuatkan. Duh Mas, jasamu itu lo.

Di luar itu semua, dia adalah sosok yang aku ingin menjadi sepertinya. Tak pernah kutemui lelaki se-nrimo dia selain Babe.

Maka, dia fiks menjadi pusat semestaku. Ditambah dia yang menjadi keluargaku di Jogja, teman, sahabat, teman ribut, pacar, dan segalanya.

Nah karena suatu alasan, kami putus. Meski aku yang memutuskan untuk berpisah dengannya, aku merasa yang paling patah hati. Dia pernah bilang sih kalau dialah yang paling sakit, karena dia orang yang ditinggalkan. Tapi di dalam hati aku juga membalas pernyataannya, bahwa aku pun juga sakit. Bagaimana tidak? Aku mencintainya sungguh-sungguh, tapi dengan suatu alasan aku harus berpisah dengannya, lalu memutuskannya dan melihat rasa sakit di matanya. Sakitku dobel, sakit karena harus pisah dengan orang yang kucintai, juga sakit harus melihat orang yang kucintai kesakitan.

Dan pada kenyataannya, beberapa bulan setelah putus, beberapa kali aku mengiriminya pesan lebih dulu. Ya karena aku kangen berat dan nggak tahan mesti ngapain. Aku kan bukan kayak dia yang bisa mengalihkan perhatiannya ke kerjaan. Kerjaanku malah jadi amburadul karena kangen. Nggak tahu malu banget kan? Galaulah pokoknya.

Itu dia penyebab wajahku berubah semakin tua dengan cepat. Sedih deh T__T

Awalnya sih aku nggak sadar dengan perubahan sikap dan ekspresiku itu. Tapi kelamaan orang-orang di sekelilingku berkomentar mengenai tidak nyamannya mereka dengan sikap dan raut mukaku yang tidak mengenakkan. Dari situ aku mulai tahu betapa tak menyenangkannya wajahku. Banyakan cemberutnya timbang senyumnya, banyakan marahnya, selalu menyendiri, nggak pernah keluar rumah kecuali harus, kerjaan berantakan, tidak merawat diri lagi.

Tapi, di samping semua itu, ada rasa lega yang menyelimutiku. Kenapa? Aku masih suka stalking tentang dia. Namanya juga masih cinta. Dari situ aku tahu bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja, bahwa dengan putusnya hubungan kami tidak mempengaruhi kegiatannya, dan dia menghabiskan banyak waktu bersama teman-temannya. Aku lega mengetahui hal itu.

Malu sih sebenarnya cerita hal pribadi begini, tapi kupikir, mumpung masih bisa, mumpung masih nggak tahu malu, dan mumpung-mumpung yang lain, aku ingin menulis apa yang ingin kutulis, aku ingin menceritakan apa yang ingin kuceritakan. Dan siapa tahu suatu saat nanti aku akan malu pada diriku sendiri atau bahkan tertawa sendiri membaca lagi tulisanku ini. Nggak apa-apa. Dinikmati aja 😀